Keren! Gadis Ini Jadi Wisudawan Kedokteran Di Usia 17 Tahun lho..

Rafidah Helmi Gbr Utama

Wajah sumringahnya, tak bisa ditutupi selama mengikuti prosesi wisuda yang berlangsung di Kampus Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Senin (18/4) lalu. Namanya Rafidah Helmi, ia anak dari pasangan AKBP (Purnawirawan) Helmi dan Rofiah dan pada saat diwisuda tepat berumur 17 tahun 8 bulan.

Itu artinya, Rafidah menjadi wisudawan kedokteran termuda sepanjang sejarah. Mengikuti jejak sang kakak Riana Helmi yang lulus dari kedokteran UGM bahkan lulus sebagai sarjana kedokteran termuda yaitu 17 tahun 11 bulan dan tercatat di rekor Muri. Apakah Rafidah juga bakal tercatat sebagai wisudawan dokter termuda menyingkirkan sang kakak?

Rafidah menjawab singkat, “Bukan rekornya yang penting, tapi ilmunya”.

Kok bisa Rafidah tamat kuliah secepat itu?

Rasa-rasanya mustahil. Mengingat usia 17 tahun, biasanya seorang anak baru menginjak kelas 2 SMA. Tapi bagi Rafidah mampu melampauinya dan mempersingkat waktu lebih cepat.

Ini rahasianya. Riwayat pendidikan Rafidah dimulai saat diterima di TK Kemala Bhayangkari Secapa Polri Sukabumi. Saat itu, ia hanya menjalani kelas nol kecil selama satu hari saja dan langsung naik kelas nol besar.

Karena kecerdasannya, belum genap lima tahun, atau tepatnya di usia 4 tahun 10 bulan, Rafidah sudah melenggang masuk ke SD Sriwidari Sukabumi. Di SD tersebut, karena ikut program akselerasi, Rafidah menyelesaikan Sekolah Dasar itu hanya lima tahun saja.

Rafidah Helmi Wisudawan Kedokteran Termuda

Rafidah Helmi Wisudawan Kedokteran Termuda, berpose bersama kedua orangtuanya, Rofiah dan AKBP (Purn.) Helmi. (Foto: Detikcom)

Hal yang sama berlaku saat ia duduk di bangku SMP dan SMA. Dengan program akselerasi, kedua jenjang pendidikan menengah itu ia selesaikan masing-masing hanya dalam waktu dua tahun.

Lulus SMA, di usia 14 tahun ia kemudian mendaftar menjadi mahasiswa di Uniss ia menyelesaikannya masing-masing hanya 2 tahun. Ia kemudian mendaftar ke Unissula dan menjadi mahasiswa pada usia 14 tahun.

Wah, keren ya. Lalu apa rahasia Rafidah?

Tentu banyak yang bertanya, apa rahasianya sehingga kedua kakak beradik tersebut bisa  menorehkan prestasi seistinewa itu? Menurut Rafidah tidak ada yang istimewa. Tak beda dengan anak-anak lain, ia beraktivitas seperti biasa. Masih sempat bermain dan khusus untuk belajar ia mengaku tidak mendapat tekanan sama sekali. Yang terpenting menurutnya menetapkan tujuan dari awal.

Senada menurut sang ayah, Helmi mengaku tidak ada metode khusus untuk mendidik tiga putrinya, Riana Helmi, Rosalina Helmi, dan Rafidah Helmi. Mereka bertiga memang punya keinginan kuat untuk menempuh pendidikan untuk menjadi dokter.

“Seperti anak-anak yang lain, ketiganya juga ikut bimbingan belajar biasa. Waktu bermain ya bermain, Kalau bosan ya belajar”, tandas Helmi.

Helmi yang juga seorang dosen di sekolah polisi Sukabumi itu juga memberikan tips agar para orang tua membina anak-anak hingga lulus SD. Di jenjang berikutnya anak-anak membina dirinya sendiri namun tetap didampingi orang tua.

Ia mewanti kepada para orang tua, “Anak itu tidak  boleh ditarget, beban dia, orang kalau dikasih beban kan malah lamban”.

“Saya tidak mengarahkan anak saya, mereka ingin sendiri. Kalau yang kedua dan ketiga itu memang ingin mengikuti jejak kakak pertama,” imbuhnya.

Sementara sang ibu, Rofiah menambahkan, dalam mendidik tiga putrinya, ia membagi tugas dengan suami. Sang ayah melakukan tugas pendidikan di luar rumah seperti les, mencari sekolahan, dan sebagainya. Sedangkan pendidikan di rumah Rofiah yang melakukan.

“Kita selalu bagi tugas, saya sama bapaknya. Saya urusan di dalam, kalau anak-anak kesulitan belajar di rumah, saya yang membantu,” tutup Rofiah.

Nah, keren kan kisah Rafidah di atas. Semoga menjadi inspirasi kita semua ya.. (*)

    Bagikan Di:

Tentang Penulis

Emha Rifani

Emha Rifani

Penulis lepas, full time freelance. Minat pada bidang politik, seni grafis, kesehatan dan teknologi.

Beri Komentar