7 Fakta Unik Gerhana Matahari Total 2016 Ini Bikin Bangga!

00 Gambar Utama (Foto tes.com)

Bangga dan beruntung banget kita bisa menyaksikan momen Gerhana Matahari Total (GMT) tahun ini. Bagaimana tidak, walau matahari dan bulan bukan milik Indonesia, faktanya GMT ini hanya bisa disaksikan via Indonesia saja. Nah lho.

Itu baru satu fakta, yuk gebet tujuh fakta unik dari GMT tahun 2016 ini.

1. Hanya Terjadi di Indonesia

01 Hanya melintasi Indonesia saja (Foto tstatic.net)

Hanya melintasi Indonesia saja (Foto: tstatic.net)

Kamu harus bangga! Sekali lagi Indonesia akan dilirik dan dikunjungi oleh banyak orang yang datang sengaja untuk menyaksikan fenomena alam unik ini.
Soalnya wilayah daratan yang dilalui GMT ini Cuma Indonesia, sisanya ‘hanya’ bisa dilihat dari wilayah perairan Samudra Pasifik.

2. Akan dapat dilihat di 11 Provinsi se-Indonesia

02 Lintasi 11 Provinsi (Foto fajaronline.com)

GMT akan melintasi 11 Provinsi (Foto: fajaronline.com)

Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), jalur totalitas gerhana membentang dari Samudra India hingga utara Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat. Jalur gerhana itu selebar 155-160 kilometer dan terentang sejauh 1.200-1.300 kilometer.

Khusus di Indonesia, GMT akan terlihat di 11 provinsi yakni, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung. Selain itu, semua provinsi di Kalimantan (kecuali Kalimantan Utara), Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara juga dilintasi. Tapi, perlu diingat, tidak semua kawasan di 12 provinsi tersebut dapat melihat.

3. Yang Pertama di RI pada Abad ke-21

03 -- Wilayah GMT di Indonesia (Foto langitselatan.com)

Wilayah sebaran GMT di Indonesia (Foto: langitselatan.com)

Kamu juga harus tahu, kalau GMT ini memang bukan kali pertamanya terjadi di Indonesia. Fenomena serupa juga pernah hadir di tahun 1983, 1988, dan 1995. Namun, khusus GMT 2016 adalah yang pertama terjadi pada Abad ke-21 di Indonesia.

Menurut perkiraan, gerhana matahari berikutnya akan terjadi di Indonesia pada 2019 — yakni gerhana matahari cincin.  Sementara, GMT baru akan melintasi di wilayah Nusantara pada 20 April 2023.

4. Siklus 300 Tahun Sekali

04 Proses Gerhana Matahari (Foto Astrosurf.com)

Proses Gerhana Matahari (Foto: Astrosurf.com)

Jadi tahukan beda GMT dengan gerhana cincin? Dan GMT adalah peristiwa yang sangat langka. Para ilmuwan juga tidak dapat menebak secara pasti siklus GMT ini dan kapan akan kembali melintasi di daerah yang sama. Ada yang 28 tahun seperti tahun 1988 ketemu lagi 2016 di daerah Kepulauan Bangka. Malah Ada daerah yang baru akan dilintasi GMT 300 tahun lagi.

5. Pesta Para Ilmuwan

05 Pesta Para Ilmuwan (Foto blogger.com- sciencythoughts)

Pesta Para Ilmuwan (Foto: blogger.com – sciencythoughts)

Para ilmuwan nasional dari Lapan dan dari luar negeri akan berkumpul dan berkolaborasi dalam mempelajari GMT ini. Nggak tanggung-tanggung, dari NASA juga akan ikut ‘berpesta’.

Mereka akan menjadikan momentum ini untuk mempelajari banyak hal terkait terkait fisika matahari maupun fisika umum. Termasuk yang paling unik adalah menguji teori relativitas Einstein, bahwa suatu benda dapat membelokkan cahaya.

6. Kesempatan Sosialisasi untuk Hindari ‘Pembodohan Massal’

06 Mitos Gerhana Matahari Total (Foto cargocollective.com)

Mitos Gerhana Matahari Total (Foto: cargocollective.com)

Para orangtua kita dahulu pasti tidak akan lupa dengan GMT yang terjadi medio 1983 dulu. Saat itu banyak sekali berkembang mitos yang salah. Hingga seperti terjadi ‘pembodohan massal’ terkait GMT.

Seperti, gerhana bisa membutakan mata, jendela rumah harus ditutup rapat-rapat. Seakan matahari memancarkan radiasi berbahaya. Juga, ada di suatu daerah, mata hewan-hewan penghuni kebun binatang ditutup, agar mereka tak buta.

Untuk itulah, Lapan meluncurkan hitung mundur 55 hari jelang GMT pada 14 Januari 2015. Tujuannya, untuk sosialisasi bahwa gerhana adalah peristiwa yang menarik dan aman dilihat.

7. Bukan Fenomena Berbahaya

07 GMT itu menyenangkan (Foto liputan6.com)

GMT itu menyenangkan (Foto: liputan6.com)

GMT itu unik dan menarik. Tidak perlu takut dengan cerita-cerita yang seolah-olah GMT itu penuh dengan mara bahaya.

Memang benar, melihat langsung gerhana matahari adalah berbahaya. Untuk itu jangan dipaksakan atau berlomba melihat matahari secara langsung. Nmaun saat gerhana total, justru paling bagus melihat langsung. Tanpa kaca mata, tak perlu pakai filter.

Namun, kamu tetap perlu berhati-hati. Titik kritisnya itu ada pada saat peralihan fase total ke fase sebagian, saat Bulan mulai bergeser, cahaya matahari yang walau baru muncul sedikit sudah sangat kuat. Padahal, pupil mata kita sedang membesar. Hal itulah yang bisa merusak retina.

Sok, biar mengasyikkan tapi tetap harus hati-hati ya gaes..

    Bagikan Di:

Tentang Penulis

Emha Rifani

Emha Rifani

Penulis lepas, full time freelance. Minat pada bidang politik, seni grafis, kesehatan dan teknologi.

Beri Komentar